Through and through, mockery and irony are being expressed
in Suwidiarta exploration. They are much related to conflicting
worlds, between what has happened and what is expected.
A world of reality that is so different to ideal ones. A
world which according to its inhabitants should be better,
but getting worse instead. A world that was said to be guided
by spiritual demands and idealism but acted as a wild-goose
chasing of the profane.
Here
is the world of mockery and irony, seen so glittery and
fragrant, but only poison in reality.
Ejekan dan ironi memang secara terus-menerus mengemuka pada
perkembangan karya seni Suwidiarta. Ejekan dan ironi yang
terkait dengan dunia penuh pertentangan, antara “apa
yang diharapkan” dan “apa yang terjadi”.
Juga sebuah dunia yang dalam realitas tak sesuai dengan
hal yang diidealkan. Sebuah dunia yang--kata para manusianya--diinginkan
membaik, namun dalam aksinya justru terlihat semakin merosot.
Dunia yang konon dibebani dengan tuntutan dan idealisme
yang bersifat spiritual, namun dalam tindakannya lebih mengejar
yang profan.
Inilah dunia ejekan dan ironi, yang secara metaforis seperti
dunia yang terlihat gemerlap, semerbak, berbau harum, namun
nyatanya semua hanyalah racun.